Showing posts with label Ame. Show all posts
Showing posts with label Ame. Show all posts

Friday, June 08, 2012

Tidak Sama

Ketidakpastian membuat adrenalin bergejolak
Lagi, ada yang menggenang hingga tersentak
Lambat laun menjadi surut lalu sirna
Mengering tampakkan hijau segar nan asing

Kini aku bisa menimba mu dengan seutuhnya
Merogoh setiap detil nadimu dengan genggamanku
Menelusur tiap robek dagingmu dalam bayang bisu
Menguliti tiap lapismu sepenuhnya

Bukan berarti aku menginginkanmu, sebuas itu
Rasanya, aku hanya ingin terus mengoyakmu, hingga kau terbujur kaku
Tidak sakit bukan? memang aku tidak ingin menyakitimu
Hanya saja kau nantinya akan sadar, betapa aku haus segala tentangmu

Friday, March 23, 2012

Kalau


Kalau aku bilang bingung, karena aku sayang

Kalau aku bilang benci, karena aku bingung

Kalau aku bilang tak peduli, karena aku benci

Kalau aku bilang pergi, karena aku tak peduli

Kalau aku tak peduli, artinya aku... bingung

Kalau aku bilang pergi, kumohon jangan pergi

Kalau aku bilang benci, kumohon diam dulu di sini

Kalau aku bilang bosan, kumohon tetap disampingku

Kalau aku marah, kumohon tertawakan aku

Kalau aku bilang semua berubah, semua juga tahu

Kalau kubilang tak selamanya, maka itu bermakna sebaliknya

Kalau aku pergi, kumohon jangan tinggalkan aku

Kalau aku egois, kumohon ingatkan aku

Kalau selamanya aku pergi, kumohon cari aku

Kalau aku diam, maka artinya aku bingung

Kalau aku bingung, karena aku sayang

Kalau aku sayang, artinya selamanya

Kalau aku bilang selamanya, tak ada makna sebaliknya

Kalau aku meninggalkan kalian, kumohon lakukan sebaliknya








Untuk AlKaLi Tersayang, Terima Kasih
Karena aku bingung, Maafkan aku



Tuesday, February 14, 2012

Kita Sekelas Bisa Foto Narsis Lho!

Mereka lah teman-teman seperjalanan ku. Teman-teman yang paling ku sayang, yang paling ingin kujaga >/////////< *malu sendiri* err... ok berdua.

Ini adalah pertama kalinya aku memasukkan foto kami ke blog :) Foto ini diambil pada saat kami sedang menjalankan Ekspedisi terakhir kami di kelas 3, Ekspedisi Wallacea!
Thirafi become 1 1/2 XDDD
All of my friends laughing together :3
WE ARE!!
Hahahaha From the Other Side :D


Hehehe aku suka ketawa sendiri kalo liat foto-foto ini. Kawan, kita, terutama kita berempat (now iam serious) sudah menghabiskan waktu bersama selama 12 tahun lho. Itu lebih dari setengah usia kita. Hehehe aku gak tau lagi mau ngomong apa kawan. Aku suka duniaku dengan kalian. Aku suka liat kalian tersenyum, ketawa ngakak, ngelawak, semua. Dalam beberapa bulan... dunia ku akan berbeda dengan dunia kalian. Aku masih mikir sampe sekarang... kalimat apa ya yang akan ku keluarkan kalo aku ketemu kalian lagi suatu saat nanti? 

"Halo?" "Apakabar?" "Lama gak jumpa!" "Kangen" "Hai" atau langsung lari aja trus gebuk kalian sepuasnya... Nantinya kita masih main bareng kan ya? Main bentengan yuk! 

Err... jujur, ngebayangin kalian punya temen lain nantinya di tempat masing-masing, aku sedih. Bukan aku lagi yang liat kalian belajar, liat kalian mikir, sharing pelajaran, dll. Bukan aku lagi yang minjemin kalian alat tulis, ngingetin kalian bawa buku, ngingetin kalian ngerjain PR. Hehehe tempatku udah di rebut orang lain. Sedih TT^TT 

Fighting guys!! Kita bisa!! Kita akan lulus dengan nilai yang baik dan diterima di universitas yang kita inginkan! Kita akan mendapatkan teman-teman dari lingkungan yang baik dan menjalankan hidup yang lebih baik dari sekarang! Menghadapi banyak pengalaman baru yang memperkaya pengetahuan dan kenangan manis! Nanti cerita-cerita ya ^^V

Aishiteru yo, minna

Saturday, January 21, 2012

Layar

"Mau liat gak kak?"
"Boleh"

Pantulan dari layar tak mampu membuat penontonnya mengatakan "tidak" atau sekedar tak menoleh
pantulan dari layar, tak mampu menyembunyikan mata yang kecewa, sedih, bangga, marah, iri, terpukau, sesak, terbakar, terlihat
pantulan dari layar, membungkam dan menebar hujaman
pantulan dari layar, memusatkan mata untuk menikmati pedih
Pantulan dari layar, berusaha menunjukkan keadaan, kenyataan
Pantulan dari layar, mengemudi pikiran menuju jurang paling curam yang penuh dengan ketidakpastian mengenai ujung dan keberadaan cahaya
pantulan dari layar, secara sukses membakar hingga habis, menyisakan luka bakar yang menggembung tak kunjung kering
pantulan dari layar, membuat tak mampu berkata-kata bahkan menitikkan air mata
pantulan dari layar, menunjukkan kesedihan yang tak dapat ku sembunyikan
Pantulan dari layar, membuat rasa takut menjadi semakin kalut
pantulan dari layar, berhasil mengalihkan pikiran

Hebat

"Udah deeeh... abis! Selesai"
"Iya,
selesai"

Desember, 2011
Published with Blogger-droid v1.7.4

Sunday, January 15, 2012

心のおん が く


Today, i wander in my memory

I’m pasing around on the end of this way

You’re still holding me tightly, even though i can’t see you any more

I’m losing my way again


I’m praying to the sky i want see you and hold you more


that i want to see you and hold you more

It can’t be if it’s not you

i can’t be without you

it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this

it’s fine even if my heart’s hurts
yes because i’m just in love with you
i cannot send you away one more time

i can’t live without you
it can’t be if it’s not you
i can’t be without you

it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this
it’s fine even if my heart’s hurts
yes because i’m just in love with you
my bruised heart
is screaming to me to find you
where are you?
can’t you hear my voice?

to me…
if i live my life again
if i’m born over and over again
i can’t live without you for a day
You’re the one i will keep
you’re the one i will love
i’m…yes because i’m happy enough if i could be with you

OST Cinderella Step Sister
Yesung (Super Junior) - It Should Be You

Saturday, January 14, 2012

si bintang terang

Sulitnya sebuah teori adalah, memahami lalu mempraktekkannya dalam kehidupan. Apalah arti teori kalau hanya di hafal dan diucapkan. Teori akan terasa lebih bermanfaat kalau kita benar-benar melibatkannya dalam kehidupan.

Sekarang, giliran teori yang satu itu tiba. Waktu itu aku pernah bertanya pada guru agamaku di sekolah
"bu, sesulit inikah untuk menjadi orang yang ikhlas?"
"Tentu. Itulah mengapa, hal itu dianjurkan dan besar balasannya di akhirat"

Sontak aku terkejut. Menyadari sebuah hal yang tak pernah kusadari. Itulah alasan mengapa seseorang yang mendalami agama akan dianggap sebagai seseorang yang berilmu dan beretiket tinggi. Bahkan kecerdasan Beragama sudah diakui sebagai salah satu kecerdasan tertinggi selain penguasaan ilmu hitung atau penguasaan sebuah keahlian bidang seni. Itulah mengapa, ikhlas sangat sulit untuk dilakukan dan di praktekkan. Aku paham.

Dihadirkan sebuah bintang dalam hidupku. Bintang muda yang polos. Yang terus mencari-cari hingga pada akhirnya mencapai sebuah titik dimana ia mengerti apa yang dimaksudkan orang-orang dewasa disekitarnya mengenai hidup. Aku diberikan kesempatan bersamanya. Mengenal, memahami, merasakan. Bukan hanya aku, bintang terang itu terus mengajarkanku banyak hal yang belum pernah aku mengerti. Aku mendapatkan pelajaran yang sulit. Dimana perasaan monopoli dari keegoisan manis muncul, lalu menetap entah sampai kapan.

Bintang terang tetap ada disana. seolah enggan pergi, enggan terus disini. Apalah artiku jika kau tak menemukan hidupmu? Kalimat itu terus membayangi keegoisan busukku yang semula hanya main-main. Tak adalagi yang dapat kulakukan.

Itu hidupmu. hai bintang terang, sebelum kau benar-benar pergi dari hadapanku, setidaknya katakanlah sebuah kalimat. sematkan namaku di dadamu, itu cukup. Doakan aku, sematkan aku. hidupku masih panjang. Ribuan warna menantiku di luar sana. Begitupun denganmu.

Hanya satu harapanku, semoga suatu saat nanti, kita dapat bertemu, berkumpul lalu tertawa ketika membicarakan hari ini. Doakan aku, sematkan aku.

Wahai kawan, aku sayang padamu.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Thursday, December 29, 2011

Musim Gugur

Suatu ketika, aku bertanya pada daun kering di sudut taman
"Apakah kau sakit?"
"Ya"
"Kau.... baru saja meninggalkan hidupmu kah?"
akupun mendongak ke ranting pohon yang jauh diatas sana dalam bungkam. Kulihat ranting itu sudah ramai dengan dedaunan hijau segar yang melekat erat di tubuhnya.
"Mau kunyanyikan sebuah lagu? "
Tanyaku pada daun kering yang garis tubuhnya tak dapat kubedakan dengan tanah.
"Apa?"
Tanyanya dengan lembut namun parau.
"One Last Cry"
Kataku perlahan.
"hahahahhahahha kau mengasihani aku kah?"
Tanya daun itu dengan suara yang bersemangat.
"Begitulah...."
"Apakah kau juga baru saja meninggalkan hidupmu, seperti aku yang pergi meninggalkan ranting diatas sana dan membiarkannya dengan daun-daun hijau segar?"
"Begitulah..."
"Apakah dia pantas mendapatkannya?"
"Maksudmu?"
"Ya.. apakah dia pantas mendapatkan pengorbanan mu?"
"Entahlah... anggap saja begitu"
"Mau kunyanyikan satu lagu?"
Dahi ku menyempit.
"Selembar daun kering akan menyanyikan sebuah lagu untukku? Waw! menarik! Lagu apa?"
"One Last Cry"
"Bwahahahahahhahaha"
"Ya tertawalah sekeras yang kau bisa selagi kau di beri kesempatan. Kau mau tahu sesuatu?"
"Apa?"
"Aku tak pernah menyesal terlahir sebagai selembar daun"
"Bisa kulihat itu di kenampakanmu"
"oh.. baguslah. Aku benci jika ada yang mengatakan betapa kasihannya aku"
"Kau...."
"Apa?"
"Tidak..."

Lalu daun lainnya jatuh diatas kepalaku. Kutatap pohon besar yang berdiri kokoh dihadapanku lalu aku mendongak untuk menatap ranting yang samar tertutup sinar tajam surya.

"Kau... maukah kau menyampaikan pesanmu padanya?"
"Maksudmu?"
"Padanya" Kutegaskan 
"Ah tak perlu... dia tahu"
"Oh begitu"
"Ya kurasa dia tahu"

Friday, December 23, 2011

semester satu


Haiiiiaaaaah..... gak terasa semester 1 ku di kelas 3 sudah berakhir. Jadi mikir... apakah aku sudah melakukan yang terbaik? Entahlah... tapi kurasa ada beberapa hal dan kegiatan yang sudah kulakukan hingga batas maksimum kemampuanku.

Sebetulnya kalau di pikir2, semester 1 ini ya panjang. Terasa 6 bulannya *kuranglebih*. Hanya saja.... ada beberapa hal yang membuatnya jadi menyedihkan dan terasa singkat.

Sebentar lagi semester 2 dan aku akan berpisah dengan teman2 ku!! Teman2 yang sudah 10 tahun bersamaku melewati hari2 di sekolah kami yang cukup membosankan namun sangat mengesankan. Hari2 yang seperti terus berulang tak ada habisnya namun setiap kukenang aku selalu mempersembahkan senyuman... hari hari yang unik dan gak akan pernah aku dapatkan kecuali aku berada di sana.

Aku punya 2 orang teman terbaik sepanjang usia!! Mereka adalah shipo dan cury!! Aku tahu semakin kita dewasa, ada banyak hal yang harus kita terima dan syukuri sekalipun itu bukanlah hal yang bagus. Bagiku, tak masalah menjadi berbeda. Perbedaan apapun tak akan mengubah kalian!! Karena kalian akan tetap jadi teman temanku!! Janji? kapanpun dimanapun, kalau suatu saat di masa depan kita bertemu lagi, kita pasti akan tetap dekat seperti saat saat ini! Aku yakin!!

Lalu... teman yang berhasil berubah dan sangat mencolok! Om! Kamu temanku kan? Hahahha terimakasih sudah menjadi temanku om. Teman shipo dan cury juga. Kamu sudah berusaha menjadi teman yang baik. Shawol yang baik juga! Hahahha kadang2 kalau kuingat masa2 SMP atau SD aku tidak menyangka bahwa om akan main sama kita. Ah perubahanmu banyak sekali.

Mereka adalah teman2 yang sepertinya paling sulit kutinggalkan ketika hari terakhir sma nanti. Seperti apa ya hari kelulusan? Entahlah.. yang jelas, kami adalah teman dan akan lulus bersama satu angkatan!!! みんな が 会いたい ね。。。

Yaap!!! Selamat berlibur!! Semoga menjadi lebih baik di tahun depan :)
Published with Blogger-droid v1.7.4

Wednesday, December 07, 2011

Hari Ini

Hari ini, ribuan topeng sudah  kupasang di wajahku. Aku gak leluasa... untuk menunjukkan kesedihan, kekecewaan, kegilaan. Dia, melupakan segala hal yang berhubungan dengan aku. Nampaknya dia tak peduli. Tapi bodohnya aku, seharusnya aku tahu itu karena dari dulu sampai kapanpun, dia memang tak akan pernah peduli padaku. Ia melupakan janji.. ah.. bahkan hutang padaku. Tak hanya satu, tapi dua :p gak beda jauh ya hahaha

Bodohnya aku, aku menganggap ia akan mengingat hal-hal itu tanpa perlu diingatkan. Haruskah aku mengatakan itu setiap hari? jangankan dia... akupun lelah jika harus setiap hari mengatakannya. Aku teralu bodoh karena mempercayainya bahwa ia akan mengingatnya. Ia orang yang sangat sederhana. Ia hanya mengingat hal-hal yang penting bagi dirinya, hal-hal yang baru terjadi dan hal-hal yang terus diulang setiap hari. Wajar  sih... untuk apa mengingat hal yang tidak penting? Tetapi, kewajaran dan kesederhanaan inilah yang membuatku kecewa. Ia melupakan janji-janjinya padaku. Artinya, aku bukan siapa-siapa, dibandingkan dia. Bodohnya aku, merasa ia ingat akan semua itu. 

Bodohnya lagi, aku menganggap ia tahu semua yang aku rasakan. Nyatanya, ia tak mengerti. Ia masih polos bagiku. Tunggu... entah dia polos atau teralu pintar. Sangat tipis bedanya. Yang jelas, ia seperti  anak-anak. Ia ingin dimengerti dan dimaklumi. Ia ingin dibantu dan dimanja. Wajar... aku juga suka jika diberi bantuan dan di manja. Menyedihkannya, aku tak mampu lagi mengenalnya lebih dari ini. 

Aku sudah cukup gila karena mengenal dan memahami dirinya sejauh ini. Bodonya aku, tindakan menjauhkan ini justru malah balik melukai ku. Aku tak lagi mengenal dirinya sebaik aku mengenalnya dulu. Perkembangannya teralu pesat. Ia berubah menjadi orang yang sangat sangat baik, diluar pikiran dan jangkauanku. Kini aku merasa tak  lagi begitu mengenalnya. Dia, lebih mengenalnya. Sekalipun aku hanya temannya, aku tetap merasa cemburu sebagai teman. 

Aku tak mampu menceritakan hal ini pada siapapun. Kurasa, teman-temanku sudah muak mendengar aku membicarakan orang itu lagi. Karena sekali membicarakannya, tak akan ada kata selesai dalam otakku. Aku tak pernah mampu menghentikan begitu saja pembicaraanku. Tak mungkin juga aku menceritakan hal ini kepadanya. Kurasa, ia lebih baik tak pernah mengetahui apa-apa soal aku dan perasaanku. Apa pedulinya? Lalu kalaupun ia tahu, untuk apa? Bodohnya, saat ini aku bercerita di dunia maya. Biarlah. Kupublikasikan cerita ini. Hati dan pikiranku sudah tak mampu lagi membendung cerita-cerita ini. Pikiranku rasanya mau meledak. Semua kecemburuan, kekecewaan, kesedihan, kekalahan kurasakan dalam satu waktu yaitu hari ini. Ia tak memberikanku kado. Haha jangankan kado. Janjinya padaku soal jajanan waktu di kotatua pun dia tak ingat. Memang, aku bukan siapa-siapa. Aku dapat memahami, mengapa ia melupakannya.  Bodohnya, aku ternyata tetap tak terima jika ia melupakanku. 

Berusaha menjadi teman yang baik tanpa melukai siapapun sangat sulit. Aku tahu, permintaanku selalu naif dan tak masuk akal. Namun kali ini saja, kumohon, izinkan kami semua, aku, dia, dua teman terbaik sepanjang usia, yang jauh disana dan yang hatinya selalu jauh dari kita, bahagia di jalan yang benar. Izinkan kami suatu hari nanti, bertemu dengan wajah-wajah bahagia. Berbicara tentang pengalaman kami setelah pergi dari tempat itu dan menertawakan hari ini sebagai masa lalu yang penuh kenangan. 

Cerita Kertas Pada Sang Pensil Dan Pena

dari kemarin, kertas remuk itu tetap tenang ada di dalam sana. Biarpun butut, jelek, rombeng dan lusush, ia tetap terlihat baik. Hari ini, kertas itu seperti diremuk kembali lalu dirobek dan diinjak sepuas hati. Yang sudah hancur, jadi tambah hancur. Entah bagaimana bisa kembali. Kertas itu tergeletak begitu saja. Ia ditinggal oleh pensil dan pena yang selama ini setia mengisi bagian dari dirinya yang kosong. Biarpun kertas sangat bermanfaat, ia tak berarti apa-apa tanpa sahabat-sahabat setia, yang kini seperti meninggalkan, melupakannya. Seonggok kertas busuk itu hanya diam, dalam posisi tekukan yang tak karuan. Pensil dan pena, beralih pada kertas baru yang lebih terang dan lurus, tanpa bekas-bekas tekukan yang berarti. Pensil telah melupakan dirinya. Memang, hal itu tidak dikatakan dengan gamblang, tidak secara langsung. Tapi kertas mampu mengetahuinya. Karena pensil, telah melupakan bentuk apa yang akan ia gambarkan diatas kertas. Tulisan apa, yang akan ia rangkai diatas kertas. Garis seperti apa, yang akan ia goreskan di atas kertas. Begitupun dengan pena. Ia telah lupa, hal apa yang harus ia ukirkan dalam tubuh kertas. Kata seperti apa yang akan ia bagikan kepada kertas. Bentuk seperti apa yang akan ia tuangkan kedalam kertas. Kertas tak mampu berkata apa-apa. Hanya berfikir, dimana pensil dan pena kini berada. Angan? Kayangan? entah. Hingga detik ini, kertas masih tak mampu menemukan jawaban apa yang terjadi dengan pensil dan pena hingga mereka menjadi seperti itu. Kertas tak lagi berani berharap. Bekas lekukan-lekukan tajam yang hampir membuat robekan selanjutnya menjadi saksi betapa tak baik berharap pada pensil dan kertas. Kertas, Pena, Pensil. Pensil Pena Kertas. Kayangan Angan Tanah. Tanah Kayangan, Angan.

Tuesday, November 29, 2011

Kata Mereka

Kata Mereka
Aku Masih Berada Dalam Lubang
Kata Mereka
Pikiranku Masih Bukan Aku
Kata Mereka
Hidupku Masih Yang Dulu
Kata Mereka
Yang Aku Pikirkan Hanya Itu
Kata Mereka
Aku Tersenyum Karena Itu
Kata Mereka
Api Masih Membara
Kata Mereka
Aku Tidaklah Membuat Abu
Kata Mereka
Nyala-Nyala Masih Nyata
Kata Mereka
Kata Mereka
Kata Mereka
Hidupku Masih Panjang
Kata Mereka
Simfoni Yang Mengalun Tetap Sama
Kata Mereka
Air Hanya Berputar Di Muara
Kata Mereka
Burung Hanya Terbang Diatas Tanah Yang Sama
Kata Mereka 
Mobil Hanya Berjalan Di Jalan Yang Serupa
Kata Mereka
Aku Tak Beranjak Kemana-Mana
Kata Mereka 
Kata Mereka
Kata Mereka...
Aku Gila

Wednesday, October 05, 2011

cuma cuap cuap! Percaya?

Malam ini, adik-adikku membuat kue. Hahaha ramai. 4 orang membuat kue jahe bersama-sama pada malam yang hangat seperti malam ini. Rasanya begitu ajaib. Gemas, ibuku pun turun tangan. Mengontrol oven abal yang sedang dibakar diatas kompor. Kesannya ganas tapi tak apa. Kurasa kata 'dibakar' cukup menggambarkan apa yang dilakukan adik-adik dan ibuku pada oven butut berlabel micky mouse tahun 90-an itu.

Harumnya kue dengan tidak sopan lewat di depan wajahku. Apakah aku kurang jauh dari dapur? saat ini aku duduk di ruang tamu, mengetik untaian kata yang entah layak dibaca atau tidak. Pikiraku kacau. Rasanya, ah tidak... kuharap besok menjadi hari yang tanpa beban. Aku lelah terus begini. Ah, kembali ke kue.

Wanginya sungguh enak. Ditambah dengan kalimat persuasif ibuku "wah garing... enak" rasanya aku jadi ingin memakannya. Ah akan kulakukan nanti setelah puas mengetik untaian kata tak beratur ini. 

Suara Sule dan kawan-kawan sejak tadi memenuhi telingaku yang cukup tajam malam ini. Tumben. Biasanya, pada malam melelahkan seperti ini indra tubuhku menumpul drastis. Apa karena vokal pelawak itu teralu jelas? entahlah. Kurasa kalau vokalnya tak jelas kemudian berani jadi pelawak, ia akan bernasib menyedihkan. Siapa yang akan mendengar leluconnya jika ia tak becus berbicara dengan baik? Hanya dia dan tuhan yang tau. Lalu, apakah tuhan akan tertawa? Hahahahaha aku yang tertawa karena pertanyaan bodohku.

Sejak pagi pikiranku dipenuhi oleh banyak hal. Seluruh masalah tiba-tiba seolah di blow up seperti pengajuan uang di pemerintahan. Semua menggembung drastis! Mengesalkan. Malam ini aku sudah memutuskan untuk menelfon tong sampah mengesalkan itu. Untuk membuang semua sampah di otakku. Tetapi handphone nya tak aktif! Oh aku jadi kesal padanya. Wajahnya yang begitu bahagia tanpa beban terpampang di layar handphone ku ditemani oleh suara operator wanita yang... ya you know lah~

Aku benar-benar sedang kacau. ERROR!
Benar-benar ujian hidup. 
Ini lebih berat dari 3 tahun yang lalu. 
Umur, kematangan, kepahaman, menggiringku kedalam lubang sumur yang lebih gelap dan dalam.
Aku belum menemukan cara untuk kembali mampu menatap matahari dengan berani.
Hahahahha seperti lagu pejantan tangguh milik SHEILA ON 7
Sayangnya aku bukan pejantan. Aku betina
Sorry Duta~ Lagu lo gak cocok jadi soundtrack hidup gue

Aish.... Aku membenci situasi gila seperti ini. Bahkan tidurpun aku lelah karena bermimpi sambil berpikir! Istirahat macam apa itu! Itu justru membuatku semakin mulas.

Seluruh kejadian membuatku berpikir. Apakah seluruh orang yang telah dewasa pada masanya pernah mengalami hal seperti yang aku alami? Apakah dari mereka semua mengalaminya? Apakah lebih berat? Lebih rumit? Lebih membingungkan. Kalau memang iya, aku butuh mereka. Tapi aku tak mau mendengar apapun untuk malam ini. Aku lelah.

Hidup itu berat, karena harus mampu bertanggung jawab. Teori sih mudah... Sekali dengar pun aku mampu menghafalnya. Tapi kalau praktek? Pantas saja hampir seluruh sekolah di Indonesia (atau dunia ya?) memiliki ujian praktek. Hahahahhaha itu latihan atau mungkin pecutan untuk hidup. Apakah anak-anak Indonesia menyadarinya ya? Hah entahlah. Kini Indonesia sudah menjadi sangat beragam. Entah itu rakyat, budaya, bahasa (sampe ada bahasa alay! Apa-apaan!) sampai jenis kriminalitas.

Oke cukup, pembahasanku kian memberat. Bagi yang membaca dan semoga menjadi peduli *ngarep* kalimat-kalimat berantakan diatas hanyalah sebagian kecil dari pikiran liar ku dalam waktu kurang dari 5 menit. Tanganku mulai lelah menjadi penyalur sampah pikiran. Begitu juga dengan mataku. 

Bagaimana jika kutuangkan semua dalam tulisan dunia maya? Seluruh pikiranku dalam satu hari? Kujamin blogger akan hang hahahahahahhaha. Tanganku juga akan mati rasa. Ah cukup. Aku hanya kehilangan teman untuk bercerita dan berbagi pikiran-pikiran seperti ini.

Capek. Lebih baik aku nonton Sule. Itu lebih sehat... kurasa.
Oke, selamat malam.
Semoga besok menjadi hari yang membahagiakan bagi semua!

:)


Labirin Bunga Berbagai Warna

Analogikan dalam bunga
Maka saat ini, mahkota merekah menuju garis cakrawala
Menunjukkan eksistensi dalam setiap tetesan embun pagi yang setia

Setiap mahkota, memiliki warna sendiri
Menggambarkan karakteristik pertangkai dalam diam
Memamerkan beragam kisah yang terpancar dengan pucat

Kini, Sang tua memudar
Bebannya begitu berat
Memapah setiap mahkota yang tumbuh kian berat

Bunga tercantik di ladang
Menjauh entah kemana
Jangan jahat
Itu bukan permintaannya
Itu airmatanya
Menyatu dalam setiap gurat penderitaan
Larut dalam kehidupan baru nun jauh disana

Merah muda
Mekar menuju sebuah kesempurnaan
Memucat entah kenapa
Menyembunyikan segala
Menjauh tanpa atau disengaja
Menyakitkan
Seluruh tanda seolah terbaca
Bagai pergi dan takkan kembali
Ia menunjukkan setiap tindakan dalam topeng tertutup rapi
Memiliki dunia sendiri
Menjadi mahkota miring diantara sunyi

Unik
Mahkota Biru bak safir bersinar dalam malam
Segala nampak begitu indah namun menyakitkan
Nampak begitu menyakitkan namun ditampilkan dalam keindahan
Menutup tapi tak tertutup
Terbuka tapi tak terbuka
Kasih sayang meluas seluas samudra
Pikiran Menyempit sesempit selokan
sepi
Tumbuh dengan sepi
Jauh
Seolah terasa jauh

Bunga kuning tetap setia di tempatnya
Tak jauh dari batas tak jauh pula dari tengah
Ia hanya ada disana
Tetapi seolah tak ada
Sibuk dengan dunianya
Sibuk dengan kuningnya yang menyala
Memicu berbagai hal dengan warna nanar
Memacu semangat dalam kepuasaan kebebasan

Menyakitkan
Lainhal, mereka memucat
Entah kemana warna hidup yang dulu mereka pancarkan
Hijau menjauh, layaknya si bunga cantik di perbatasan ladang
Menyembunyikan duka dibalik duka yang lain
Menampakkan kebahagiaan dibalik topeng kebahagiaan yang lain
Menahan pilu dalam diam dibalik kepura-puraan
Hanya mampu tersenyum dan tetap mempertahankan pancaran
Takut
Pucat hampir menelan mahkota lebarnya

Bunga ungu
Berada di tengah ladang dengan posisi strategis, sempurna
Seolah menjadi pusat dari segala pusat
Menampilkan kesederhanaan, dibalik ketidaksempurnaan
Menunjukkan kebahagiaan dibalik kerumitan
Bingung
Diam, diam-diam bingung
Mencicip rasa baru dalam setiap pertumbuhan mahkota yang kian berat
Mencoba bertahan, dibalik segala kerisauan
Diam diam diam
Menyembunyikan dalam suara lantang
Menunjukkan kesepian

Dari balik semak
Bunga merah diam
Memupuk ribuan pertanyaan
Menghamburkan ribuan pertanyaan
Mahkotanya kian berat
Menjadikannya hampir mati karna tak kuat
Semua seolah menghilang
Adakah topeng yang pas untuk mahkota merah ini?
Semua terasa membingungkan
Membungkam pikiran dengan ribuan kata tanya

Semua seolah kehilangan
Warna
Indra

Entah
Apa ini hanya buruk sangka?
Entah

Entah
Apa ini hanya sementara?
Semoga

Mahkota kami kian memberat
Menurunkan kami dalam ketidakpastian
Menenggelamkan kami dalam pikiran, simpulan mematikan



Wednesday, September 28, 2011

Beberkan Saja. Toh Mereka Pasti Mengerti

Semua terasa ketika
Kabut menyelimuti pepohonan dengan cepat
Menutup semburat cantik cahaya
Yang menyelinap di balik dedaunan hijau yang rindang

Semua terjadi ketika
Suara ramai itu berdenging memenuhi telinga
Pandangan kabur hingga tak lagi mampu mencari fokusnya
Lalu diam menatap keramaian yang tak kunjung berhenti

Semua seolah menghilang ketika
Kebahagiaan kecil yang menyengat muncul secara tiba-tiba
Menghiasi senyuman
Mengintip dari selimut duka yang selama ini tak mampu terbuka

Semua terasa ringan ketika
Langit menunjukkan keanggunanya
Menampilkan keindahan seluruh awaknya
Lalu menghujani dengan kehangatan sang sahabat

Lalu perlahan semua menghilang
Tepatnya, mati
Tepat pada hati
Tepat seperti telepati

Deskripsi ini kupersembahkan kepada
Seluruh teman, yang merasa bahwa aku adalah bagian dari dunia mereka
Bagi orang, diam itu emas
Bagiku, diam itu sampah
Maaf aku tak pintar berbohong
Maaf aku tak pintar mengatakan maaf
Maaf, aku tak pintar berterimakasih
Maaf aku membeberkan segalanya tanpa permisi
Maaf aku menggunakan topeng untuk kesekian kali

Thursday, September 22, 2011

Seonggok Merah

Entah sudah keberapa kali aku menuliskan kalimat ini. Mungkin keinginanku memang naif, tak masuk akal, tak logis. Tapi yang kuinginkan hanyalah kita semua bahagia.

Kenyataannya, aku menemukan seonggok merah yang seolah tak diinginkan. Apa, disana kebahagiaan kalian? Mungkin kalimatku ini terdengan begitu jahat. Tapi aku menuliskan ini bukan karena ingin kalian di cap sebagai 'si jahat'. Lebih tepatnya, aku menulikan ini karena aku sayang kalian. Kalau memang seberat itu menjalani hari dengan seonggok merah yang seperti itu, ya sudah. Pergilah. Senangkanlah diri kalian. Jangan dekati dia. Biarpun si merah lebih suka ramai dan selalu bersama-sama, tapi kalau memang se sulit dan se pahit itu, pergilah dari sisinya. Itu lebih baik bagi semuanya. Baik si merah maupun kalian. Karena, kebahagiaan kalian, adalah sebagian besar dari kebahagiaan si merah.

Ku mohon, pahamilah sedikit onggokan busuk itu. Jangan biarkan ia terus membusuk hingga mati. Aku dan dia, sudah lelah menunggu.


Wednesday, September 14, 2011

Aku dan Tembok Itu

Ketika aku berbaring, rumput dengan lembut menyentuh kulitku yang sensitif. Diam, diam, diam. Dalam diam kurasakan tanah mulai menyatu dengan tubuhku. Kubentangkan tangan dan kutatap langit lekat-lekat. Awan dengan lekukannya yang khas seolah menari-nari diatas wajahku yang sudah kulupakan bentuknya. Kemudian langit secara perlahan memamerkan keindahan dirinya dengan bantuan sinar matahari yang selalu setia dan awan-awan putih yang sejak awal menggantung di atas sana hingga membuatku tak bisa beralih. Adakah tempatku di sana?

Dengan berat kutopang tubuhku dan mencoba untuk berdiri. Lagi-lagi, tembok besar itu menghalangi pandanganku untuk melihat langit yang indah dengan lebih jauh. Matahari pergi secara perlahan, menuju wilayah yang tak pernah kusentuh. Begitupun dengan awan-awan, yang seolah selalu setia menjadi pelengkap kehangatan matahari yang dicintai oleh semua mahluk hidup. Ya, ia selalu dicintai oleh banyak individu, banyak orang. Kemudian ketika lewat dari tengah hari, ia akan pergi, menuju tempat yang tak lagi bisa kujangkau. Tembok sial itu benar-benar mengganggu hidupku yang tak bisa disebut bahagia. Seolah meledek keterbatasanku, tembok besar itu tetap berdiri kokoh, enggan disingkirkan.

Jangan kalian tanya berapa kali aku mencoba menghancurkan tembok itu semampuku. Sudah kupukul dengan begitu banyak benda. Sudah ku dorong dengan seluruh kemampuan yang ada. Bahkan sudah kulumuri seluruh permukaannya dengan air mata derita yang selama ini berderai jatuh tak terbendung. Kemana semua orang? mengapa hanya aku yang di sini? apakah sehina itu diriku hingga tak pantas hidup di balik tembok sial ini? Apa seburuk itu menjadi berbeda?

Aku kesepian. Terutama setelah matahari pergi meninggalkanku. Aku selalu menantikan kehangatannya. Menunggu senyumannya, menantikan tawanya. Sekalipun pada malam hari, aku jadi gila karenanya. Karena kepergiannya. Karena rasa rindu yang seolah merobek seluruh jantungku, lambungku, tenggorokanku, kulitku, bibirku. Aku rindu akan kehangatan yang ia bawa. Sekalipun itu menimbulkan candu dan bekas yang mendalam dalam setiap lukaku. Sekalipun kehadirannya, selalu menambahkan goresan dalam hatiku.

Seolah menantang tembok itu terus berdiri tegak di hadapanku. Seolah menghina, tembok itu tak pernah sedikitpun hilang dari hadapanku. Lapangan sempit ini sudah membuatku hampir-hampir gila. Aku butuh mereka yang berada di balik tembok sialan ini. Berteriakpun percuma. Takkan ada satupun yang mampu menolong. Bahkan burung-burung yang melintaspun menertawakanku dengan kicauannya yang ramai. Angin menghina dengan dorongannya yang kasar dan tembok itu. Ya, tembok itu. Menatap dengan jijik kearah aku, yang tak kunjung mampu mengubahnya. 

Entah siapa yang salah, aku tak tahu. Bagaimana kisah awalnya? aku pun lupa. Yang kusadari hanya posisi melelahkan ini. Bahkan bayanganku pun enggan bersamaku lagi.


Tuesday, August 23, 2011

Luput

Tak satupun luput
Tetapi ini menjadi semakin akut

Aku bingung
Ada diantara banyak dengung

Ini hidup?
Wow hebat
Ini ternyata yang di sebut 'hidup'
Hebat

Aku terbabat


Sunday, July 31, 2011

Yang Terbesit

Malam yang tenang di kamar yang sepi. Adikku sudah tertidur lelap sejak 2 jam yang lalu. Sedangkan kakaknya, sama sekali tak bisa masuk ke alam mimpi. Entah karena tadi sudah tidur atau justru karena banyak pikiran. Yang pasti, keduanya memiliki nilai 'benar'. Hanya kadarnya yang tak diketahui. Apakah lebih banyak ke pilihan pertama atau kedua.


Besok adalah hari pertama di bulan Ramadhan. Tak terasa sekali, sudah 2th yang lalu aku pulang kampung. Apa kabar Padang ya? semoga semakin baik. Sejak gempa September 2009 lalu, aku belum sempat mengunjungi kota tepi pantai itu. Entah seperti apa sekarang. Yang masih kuingat jelas di benakku, Padang hancur. Bangunan seperti kue lapis yang berantakan dan jalanan seperti kue brownis yang merekah.

Tak ada lagi yang bisa kulakukan malam ini selain menyalakan sahabat kecilku ini dan mulai mengetik untaian kata yang terus mengalir tak berhenti. Aku baru saja melihat blog adik kelas ku yang begitu manis, cantik. Entah mengapa, semarah atau se tak suka nya aku padanya karena ia masih terlihat sangat main-main dan tidak pernah serius mengerjakan tugas, aku jadi ikut tersenyum melihat wajah tersenyumnya yang cantik itu menghiasi sebagian besar blognya. Memang benar-benar anak perempuan. Walaupun aku agak berat mengakuinya, tapi aku merasa ia memang sangat berbeda jauh dengan ku. Kamu cantik sekali :)

Aku sering memerhatikannya di sekolah. Ia memang sangat menarik. Biarpun ia tergabung dalam kelompok yang tidak kupahami dan tidak ingin kupahami, aku tahu sebetulnya ia begitu baik. Aku sering merasa bersalah kepada orang-orang yang kumaksudkan dalam kelompok tadi. Padahal aku tahu, mereka sangat berbakat dalam bidang mereka masing-masing, terutama musik. Tetapi entah kenapa, mereka seolah tenggelam di tengah peraturan yang kian mengetat. Terkadang aku berfikir, "untuk apa aku memikirkan mereka hingga seperti ini? toh mereka juga tidak pernah memikirkanku"

Ya aku tahu kenyataannya begitu. Tetapi, aku hanya tak bisa melihat mereka berakhir seperti itu. Mungkin ini aneh, tapi terkadang aku merasa mereka tak jauh berbeda dengan aku yang dulu. Mungkin juga karena alasan itu, aku tak mau melihat mereka terus terlihat menyedihkan seperti itu. Padahal mereka sama sekali tidak menyedihkan. Satu yang paling mereka punya yang banyak tidak dimiliki oleh orang lain, termasuk aku. Rasa Percaya Diri. They totally have it.Itu yang membuatku sering memperhatikan mereka. Dari mana datangnya kepercayaan itu? mengapa aku tak bisa seperti itu? mengapa aku menyerah begitu saja selama ini hanya karena aku tak berani menunjukkan siapa aku dan seperti apa 'aku' yang sesungguhnya?

Satu hal lagi yang aneh. Semakin kesini, aku memperhatikan 'aku' semakin diam dan diam. Ada apa? seolah ada begitu banyak beban di bibir sehingga tak mampu angkat bicara. Tak bisakah aku hanya bersikap seperti anak SMA pada umumnya? Aku lelah dengan semua pikiran-pikiran ini. Mereka mendominasi hidupku.

Agak bodoh juga mengapa aku seolah 'mempublikasikan' segala pikiran ku yang ku jamin tak ada yang tahu, kecuali setelah aku mem-post ini. Entahlah. Aku sudah cukup muak membuka buku harian atau yang lebih dikenal dengan nama diary. Buku itu menyimpan teralu banyak cerita mematikan. cerita-cerita yang seharusnya aku lupakan namun tak mungkin karena aku masih menyayangkannya. Karena ada orang tersayang di dalamnya. Karena kisah-kisah itulah yang membentuk diriku hingga menjadi seperti sekarang. Menurutku naif namanya kalau aku tetap memaksakan otakku untuk melupakan segala akar tersebut. Lebih baik aku menjadikannya sebagai kenangan 'masa kecil' dan berusaha untuk mewarnai lembaran baru dengan lebih ceria. Aku hanya meminta hak ku untuk bahagia. Namun ternyata tak semudah yang kukira.

Aku sayang dengan teman-teman sekelasku yang lucu. Hahahahahha mereka memang sangat bisa membuatku tertawa terpingkal-terpingkal sekalipun aku sedang menangis. Mereka juga yang membuatku berani menertawakan atau menangisi kebodohan ku sebagai manusia. Mereka yang memberikanku kekuatan, di segala hal. Dan memberikanku contoh kecil akan persaingan sehat antar individu. AlKaLi memberikan aku gambaran akan dunia dalam skala kecil. Biarpun kecil, aku merasa ini adalah pondasi kuat yang suatu saat nanti akan menjadikan tiap individunya bertahan hidup dengan hebat. Apa yang sedang kalian lakukan sekarang? saat ini aku sedang membicarakan kalian lho. Kutebak saat ini kalian sedang bermimpi indah.Memimpkan aku.... hahahahahahhaha :)

Besok adalah hari penentuan urutan daftar nama yearbook. Siapa cepat, dia yang akan mengisi lembaran pertama bagian profil. Besok adalah hari yang hebaaat!!

Untuk kali ini kukatakan, cepatlah datang waktu berangkat sekolah!


Tuesday, July 19, 2011

Purnama

Tatkala purnama datang lagi
Bersediakah ia kuajukan pertanyaan?
Bersediakan ia kutatap selama yang ku inginkan?
Bersediakah ia bersinar lebih dari yang seharusnya?

Ketika giliran purnama berjaga
Akankah ia melihatku berada disini?
Aku yang sudah berdiri tegak menunggunya
Aku yang jauh dari dunianya

Tatkala Purnama pergi
Apakah ia akan mengingatku?
Apakah setidaknya ia telah mendengar suaraku?
Apakah ia tidak akan berubah menjadi yang lain?

Yang kuinginkan hanyalah melihatnya menjadi purnamaku seorang
Purnama yang memberi cahaya ditengah malam
Purnama yang mampu merebut pandanganku semalam
Purnamaku tersayang

Ketika kau kembali
Akankah kau
Mampu kah kau
Aku?




Wednesday, May 18, 2011

Lihat, batu pun luluh
Jatuhmu yang lembut itu membuat keras menjadi rapuh
Lihat, Bunga pun tumbuh
Keberadaan mu yang sesak itu membuat ladang menjadi riuh
Dengar, Kayu pun gemerisik jadi abu
Ada mu yang membakar itu membuat kukuh menjadi teduh
Dengar, Air pun gemercik membasuh
Hadir mu yang tenang itu dengan perlahan masuk