Friday, December 16, 2011

POST-ING-AN KE 200!!

Yappariiiiiiii!!!! Ini adalah ke 200 kalinya saya mem-posting di blogger!! Ehem ehem... sebelumnya saya berterimakasih atas kapasitas tak terhingga yang diberikan oleh pengelola blogger kepada blog saya... lalu kepada para pembaca yang dikenal maupun tidak.. sungguh komen2 kalian membuat saya senang :') walaupun... ada juga komentar yang membuat saya LANGSUNG menghapus posting-an tersebut saking malu nya =___= Sungguh komentar anda menyakitkan mata, mata kaki, hati, hati nurani bahkan lambung saya~

Oke! ini adalah hari sabtu tersantai selama 3 bulan terakhir ini! Selain gak ada yang namanya pelajaran tambahan, ujian semester satu telah usaaai!!! Dengan nilai-nilai yang err... tak mampu terkatakan

Sebetulnya saya masih memiliki 2 tugas besar dengan deadline yang benar benar mematikan! *dead* Yaitu PENELITIAN!! Penelitian Sosiologi dan Penelitian Ekspedisi -____-

Dan tugas pun bertambah semenjak saya menjadi guru santai bahasa Jepang seorang anak kelas 9 yang sangat cerewet dan bersemangat minta ujian hiragana... hehehe senangnya bikin ujian :) Rasanya jadi pengen bales dendam karena kemarin habis dikerjain sama soal-soal yang bikin bete... terutama bahasa Inggris dan Ekonomi!! Bikin stress! Tapi yaaa.... gak baik yaa ada senioritas.. lagian ini bukan urusan antara senior sama junior.. tapi antara guru sama murid.. jadi.. ya lupakan. Saya kan anak baik :D

oke saya akan cukupkan posting-an sabtu indah bercahaya berseri-seri bak sinar matahari pagi yang mengintip di sela-sela kayu jendela berembun sejuk *halah!*

Minna, Nyappy HOLIDAY!!



Wednesday, December 07, 2011

Nastar VS Strawberry!

Sumber : Dokumentasi Pribadi


Coba tebak makanan apa ini!! INI ADALAH NASTAR!!
Nastar Strawberry ini adalah nastar oleh-oleh dari bapak yang sehabis bertugas di Padang. Saking uniknya nastar ini, ada seorang temanku yang rela-rela pesan lewat  keluargaku agar dapat mencicipi setoples nastar ini!
Sekalipun bentuknya Strawberry, isinya tetap saja nanas :) kenapa gak nanas aja ya? entahlah~ tapi seharusnya sih sesuai. Kalo luarnya strawberry, ya isinya juga. Ini nastar labil~~
Rasanya enak banget lho! ditambah dengan bau manis strawberry diluarnya! uwoooowww... jadi pengen lagi :3

Hari Ini

Hari ini, ribuan topeng sudah  kupasang di wajahku. Aku gak leluasa... untuk menunjukkan kesedihan, kekecewaan, kegilaan. Dia, melupakan segala hal yang berhubungan dengan aku. Nampaknya dia tak peduli. Tapi bodohnya aku, seharusnya aku tahu itu karena dari dulu sampai kapanpun, dia memang tak akan pernah peduli padaku. Ia melupakan janji.. ah.. bahkan hutang padaku. Tak hanya satu, tapi dua :p gak beda jauh ya hahaha

Bodohnya aku, aku menganggap ia akan mengingat hal-hal itu tanpa perlu diingatkan. Haruskah aku mengatakan itu setiap hari? jangankan dia... akupun lelah jika harus setiap hari mengatakannya. Aku teralu bodoh karena mempercayainya bahwa ia akan mengingatnya. Ia orang yang sangat sederhana. Ia hanya mengingat hal-hal yang penting bagi dirinya, hal-hal yang baru terjadi dan hal-hal yang terus diulang setiap hari. Wajar  sih... untuk apa mengingat hal yang tidak penting? Tetapi, kewajaran dan kesederhanaan inilah yang membuatku kecewa. Ia melupakan janji-janjinya padaku. Artinya, aku bukan siapa-siapa, dibandingkan dia. Bodohnya aku, merasa ia ingat akan semua itu. 

Bodohnya lagi, aku menganggap ia tahu semua yang aku rasakan. Nyatanya, ia tak mengerti. Ia masih polos bagiku. Tunggu... entah dia polos atau teralu pintar. Sangat tipis bedanya. Yang jelas, ia seperti  anak-anak. Ia ingin dimengerti dan dimaklumi. Ia ingin dibantu dan dimanja. Wajar... aku juga suka jika diberi bantuan dan di manja. Menyedihkannya, aku tak mampu lagi mengenalnya lebih dari ini. 

Aku sudah cukup gila karena mengenal dan memahami dirinya sejauh ini. Bodonya aku, tindakan menjauhkan ini justru malah balik melukai ku. Aku tak lagi mengenal dirinya sebaik aku mengenalnya dulu. Perkembangannya teralu pesat. Ia berubah menjadi orang yang sangat sangat baik, diluar pikiran dan jangkauanku. Kini aku merasa tak  lagi begitu mengenalnya. Dia, lebih mengenalnya. Sekalipun aku hanya temannya, aku tetap merasa cemburu sebagai teman. 

Aku tak mampu menceritakan hal ini pada siapapun. Kurasa, teman-temanku sudah muak mendengar aku membicarakan orang itu lagi. Karena sekali membicarakannya, tak akan ada kata selesai dalam otakku. Aku tak pernah mampu menghentikan begitu saja pembicaraanku. Tak mungkin juga aku menceritakan hal ini kepadanya. Kurasa, ia lebih baik tak pernah mengetahui apa-apa soal aku dan perasaanku. Apa pedulinya? Lalu kalaupun ia tahu, untuk apa? Bodohnya, saat ini aku bercerita di dunia maya. Biarlah. Kupublikasikan cerita ini. Hati dan pikiranku sudah tak mampu lagi membendung cerita-cerita ini. Pikiranku rasanya mau meledak. Semua kecemburuan, kekecewaan, kesedihan, kekalahan kurasakan dalam satu waktu yaitu hari ini. Ia tak memberikanku kado. Haha jangankan kado. Janjinya padaku soal jajanan waktu di kotatua pun dia tak ingat. Memang, aku bukan siapa-siapa. Aku dapat memahami, mengapa ia melupakannya.  Bodohnya, aku ternyata tetap tak terima jika ia melupakanku. 

Berusaha menjadi teman yang baik tanpa melukai siapapun sangat sulit. Aku tahu, permintaanku selalu naif dan tak masuk akal. Namun kali ini saja, kumohon, izinkan kami semua, aku, dia, dua teman terbaik sepanjang usia, yang jauh disana dan yang hatinya selalu jauh dari kita, bahagia di jalan yang benar. Izinkan kami suatu hari nanti, bertemu dengan wajah-wajah bahagia. Berbicara tentang pengalaman kami setelah pergi dari tempat itu dan menertawakan hari ini sebagai masa lalu yang penuh kenangan. 

Cerita Kertas Pada Sang Pensil Dan Pena

dari kemarin, kertas remuk itu tetap tenang ada di dalam sana. Biarpun butut, jelek, rombeng dan lusush, ia tetap terlihat baik. Hari ini, kertas itu seperti diremuk kembali lalu dirobek dan diinjak sepuas hati. Yang sudah hancur, jadi tambah hancur. Entah bagaimana bisa kembali. Kertas itu tergeletak begitu saja. Ia ditinggal oleh pensil dan pena yang selama ini setia mengisi bagian dari dirinya yang kosong. Biarpun kertas sangat bermanfaat, ia tak berarti apa-apa tanpa sahabat-sahabat setia, yang kini seperti meninggalkan, melupakannya. Seonggok kertas busuk itu hanya diam, dalam posisi tekukan yang tak karuan. Pensil dan pena, beralih pada kertas baru yang lebih terang dan lurus, tanpa bekas-bekas tekukan yang berarti. Pensil telah melupakan dirinya. Memang, hal itu tidak dikatakan dengan gamblang, tidak secara langsung. Tapi kertas mampu mengetahuinya. Karena pensil, telah melupakan bentuk apa yang akan ia gambarkan diatas kertas. Tulisan apa, yang akan ia rangkai diatas kertas. Garis seperti apa, yang akan ia goreskan di atas kertas. Begitupun dengan pena. Ia telah lupa, hal apa yang harus ia ukirkan dalam tubuh kertas. Kata seperti apa yang akan ia bagikan kepada kertas. Bentuk seperti apa yang akan ia tuangkan kedalam kertas. Kertas tak mampu berkata apa-apa. Hanya berfikir, dimana pensil dan pena kini berada. Angan? Kayangan? entah. Hingga detik ini, kertas masih tak mampu menemukan jawaban apa yang terjadi dengan pensil dan pena hingga mereka menjadi seperti itu. Kertas tak lagi berani berharap. Bekas lekukan-lekukan tajam yang hampir membuat robekan selanjutnya menjadi saksi betapa tak baik berharap pada pensil dan kertas. Kertas, Pena, Pensil. Pensil Pena Kertas. Kayangan Angan Tanah. Tanah Kayangan, Angan.

Tuesday, November 29, 2011

Kata Mereka

Kata Mereka
Aku Masih Berada Dalam Lubang
Kata Mereka
Pikiranku Masih Bukan Aku
Kata Mereka
Hidupku Masih Yang Dulu
Kata Mereka
Yang Aku Pikirkan Hanya Itu
Kata Mereka
Aku Tersenyum Karena Itu
Kata Mereka
Api Masih Membara
Kata Mereka
Aku Tidaklah Membuat Abu
Kata Mereka
Nyala-Nyala Masih Nyata
Kata Mereka
Kata Mereka
Kata Mereka
Hidupku Masih Panjang
Kata Mereka
Simfoni Yang Mengalun Tetap Sama
Kata Mereka
Air Hanya Berputar Di Muara
Kata Mereka
Burung Hanya Terbang Diatas Tanah Yang Sama
Kata Mereka 
Mobil Hanya Berjalan Di Jalan Yang Serupa
Kata Mereka
Aku Tak Beranjak Kemana-Mana
Kata Mereka 
Kata Mereka
Kata Mereka...
Aku Gila