Friday, June 03, 2011

Masa Masa Ujian Pun Dataaaang!!! (lagi -___-)

YAHOOOOO!!!! minggu depan ujian akan menghujam saya dengan berbagai pertanyaan. Kalau di pikir-pikir.. gak pernah ya ada ujian yang membuat pertanyaan. Pasti selalu menjawab pertanyaan. Padahal untuk membuat sebuah pertanyaan kan butuh banyak teori dan perhitungan. Tapi ya.... mungkin cara bertanya lalu menjawab adalah hal kuno yang sampai sekarang masih ampuh digunakan. Karena selain sudah menjadi budaya, polanya pun kini beragam dan sudah dipatenkan di otak setiap orang. Ya gak masalah sih.... hahahahahhah cuma iseng aja ngomentarin (mulai miring) XDDD

Ya..... di tahun ini... saya.... ujiannya.... double -____- 
LIA tuh sadis ya.. sediiiih rasanya 
ujiannya rebet -__-
tp bahagia juga! akhirnya mau naik level :D 
dan akhirnya saya jadi anak kelas 3...

Hah memang ujian itu gak bia di pungkiri
mau ampe tua juga pasti selalu ketemu sama yang namanya ujian...
biarpun berbeda-beda bentuknya.. hahaha yaialah! se-monoton-monotonnya hidup orang, gak ada yang gak merubah sesuatu. 

Ok cukup. Sekian.
Lumayan juga ngetik gak jelas buat ngisi siang bolong ku yang SANGAT PANAS ini!!!
ah... bahkan aku belom sholat juga...
yo wess...

Selamat menempuh ulangan :D

Sunday, May 29, 2011

Betapa 'SENYUM' bisa jadi 'senjata' yang ampuh!!

OHYEAH! Betapa senyum bisa jadi senjata yang sangat ampuh! Hal ini bener-bener udah terbukti kebenanrannya karena saya sendiri yang mencobanya. Tapi jujur aja, saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang mencoba hal ini. Saya pernah berjalan dengan TANPA SENYUM sama sekali. Hasilnya, banyak orang yang menatap saya (gak tau kenapa) tapi tatapanya itu menusuk tajam sangaaaaat dalam *sorry lebay mood on* TAPI! ketika mencoba berjalan dengan senyam senyum, saya diliatin sama banyak orang juga tapi dengan tatapan yang lebih aneh! YUP karena senyam senyum sendiri (berdua) *cuma alkali yang paham, maaf :D* dan hal yang lucu sampe bikin senyam senyum itu cuma ada di pikiran saya seorang! (berdua) *sekali lagi, hanya alkali yang tau* .
NAHH!! itu hal yang dua dua nya merugikan. Untungnya, kalo kita tersenyum ketika bertemu orang baru, berkenalan, atau sekedar papasan orang itu pasti akan menanggapi kita dengan ramah. Ya sebetulnya setiap teori pasti punya pengecualian. Jujur, itu sebetulnya tergantung orangnya. Ada juga yang pas disenyumin malah takut (dikira SKSD atau sekedar orang gak jelas mau kenalan atau genit) ada juga yang tadinya judes malah tambah judes mukanya. Ampe jadi lebih kusut dari sarang burung. Ya well... itulah manusia. Kalo gak beragam, ya gak seru. Tapi biarpun kita berbeda, kita tetap satu! TUT WURI HANDAYANI! PANCASILA! *sorry nasionalisme mood on*
 Nah satu hal yang pasti. Ketika kita akan tampil didepan banyak orang (sedikit juga gak apa apa) kita WAJIB SENYUM!!! itulah hal terbesar yang akan orang perhatikan dari kita. Oke sekian cerita soal senyum yang jujur saya lakukan sendiri semuanya hingga bisa bercerita disini.
So keep smiling everyone :)

Wednesday, May 18, 2011

another unfinished project :D

"AYO SERAAAANNNGG!!"
Riuhnya lapangan sontak membuatku tertegun. Hati kecilku sibuk mengeluarkan apa yang selama ini tak pernah ku keluarkan. "Mungkin, ada baiknya bila aku bersenang-senang seperti mereka". Bingkai bening yang tegak menutupi mata ku melorot seketika. Aku hanya sibuk menaikkannya sambil mengatur buku-buku di tanganku. Tak ada yang peduli padaku. Mereka senang, nampak begitu di mata ku. Aku hanya melihat tanpa berkomentar. Mulutku rapat dan tanpa sadar aku semakin dekat dengan lapangan. Riuh suara anak-anak semakin jelas terdengar di telinga ku. Silih berganti perasaan itu masuk mengisi hati. Mulai dari cemas hingga ketenangan. Dari kecemburuan menjadi kebahagiaan. Dari muak menjadi kagum. 
"Hei tolong ambil bola itu!"
Seorang anak lusuh menunjuk-nunjuk sepatu ku. Ah... ada bola. Kuletakkan buku-buku ku di tanah dan kulemparkan bola itu padanya. 
"Trimakasih!" Ucapnya singkat.
"ss..ama....sama.." Ucapku gugup. Ia tertawa.
Sepatu yang ia kenakan sama lusuhnya dengan pakaiannya. Rambutnya yang pendek melebihi tengkuknya terlihat agak kecoklatan karena tanah. Wajahnya sangat kotor namun tetap menawan. Mungkin, karena sorot matanya yang penuh dengan kebahagiaan. Ekspresinya membuat ia terlihat sangat berseri-seri. Sekali lagi, menawan. Berbeda denganku. Walaupun yang ku kenakan baju yang begitu bersih, aku nampak tak hidup. Kulihat anak-anak perempuan sebaya dengan ku menatapku dengan mata yang terbelalak. Bukan karena terkejut, aku yakin mereka hanya kagum. Memang, aku mengenakan pakaian yang teralu baik. Apalagi untuk tempat seperti ini. Lapangan becek yang penuh lumpur dan sisa potongan rumput. Ibuku teralu bersemangat karena kakak akhirnya bersedia mengajakku keluar rumah untuk menemui teman mainnya. Aku dikenakan sepatu merah darah lengkap dengan pita lipit yang mengelilingi bagian pergelangan kaki ku. Ditambah dengan list hitam yang berkilau, sepatu ini memang tak cocok untuk di kotori di tempat ini. Pakaian ku teralu banyak renda dan lipatan. Ah.. juga pita dan kancing. Ini menyebabkan siangku menjadi dua kali lipat lebih panas. Pakaian putih ini menjadi agak kotor di bagian depan setelah aku mengambilkan bola untuk anak tadi. Sepertinya, aku paham mengapa anak-anak perempuan itu menatapku dengan mata seperti itu. Rambutku coklat keemasan, bergelombang. Yap rambut ini semakin terlihat mahal akibat ibu yang menambahkan asesoris tak penting yang cukup membuatku pegal. Mulai dari bandana hingga jepit-jepit kecil yang membuat poni ku tertarik ke belakang hingga wajahku semakin mudah dilihat orang. Aku lelah menjadi boneka.

Buku-buku yang tadi ku letakkan di tanah kini menjadi sangat kotor akibat bola yang tanpa permisi melintas diatasnya. Mau ku berteriak, tapi ternyata aku tak bisa. Tenggorokan ku tiba-tiba tercekat dan seketika aku mengalami kendala bahasa yang banyak dialami oleh suster-suster ku dirumah. 

Dari jauh kulihat kakak berlari menghampiriku yang seperti patung etalase, hanya berdiri dan tanpa senyum. Kakak tersenyum sangat lembut, kemudian ia mengambil buku-buku disamping sepatu ku dan membersihkannya dengan pakaian yang ia kenakan.
"Bukankah ini buku-buku favoritmu En? Kasihan mereka jadi kotor..."
Ia menyodorkan buku-buku itu padaku, dengan sangat lembut. Perlakuannya padaku membuat tubuhku seketika mencair dan wajahku terasa lebih lentur. Aku tersenyum.
"Tadi ada bola yang mengotorinya... aku mau marah tapi..."
Aku tercekat, lagi. Kakak dengan senyumnya yang menawan-semenawan anak tadi-melihatku dengan sangat dalam. Ia melepas bandana ku dan mengelus kepala ku dengan sedikit bertenaga.
"Tapi apa?"
"Tapi susah.."
"Hahahahhhaha itulah Enna yang kakak kenal"

-unfinished project- :D


Lihat, batu pun luluh
Jatuhmu yang lembut itu membuat keras menjadi rapuh
Lihat, Bunga pun tumbuh
Keberadaan mu yang sesak itu membuat ladang menjadi riuh
Dengar, Kayu pun gemerisik jadi abu
Ada mu yang membakar itu membuat kukuh menjadi teduh
Dengar, Air pun gemercik membasuh
Hadir mu yang tenang itu dengan perlahan masuk

Saturday, May 07, 2011

Ayah, Ayah, Ayah

"Seperti apa ayah kalian?"
Kalo pertanyaan ini ditujukan ke aku, wah... bisa-bisa aku gak berhenti ngomong.
Ayah adalah laki-laki pertama yang aku kenal dalam hidup. Seorang contoh yang baik. Ayah yang memberikan aku gambaran tentang banyak hal. Ayah selalu berusaha mengenalkan banyak hal dibidang yang ia kuasai dan selalu berusaha menjadi model yang baik bagi putra putrinya. Ayah selalu mendukung dan memberi solusi atas apa yang aku minati. Setiap pagi selalu bercerita tentang kondisi manusia dan bumi di meja makan. Membahas isi koran dan bahkan membahas perkembangan anak hingga jadi manusia. Paling semangat kalau udah ngebahas sayuran dan olahraga. Hahahahahha selamat ayah. Ayah udah berhasil bikin anak-anaknya punya kenangan bahwa ayah selalu standby buat kita pagi-pagi. Usaha perbaikan nama yang hebat.... aku sangat berterimakasih pada adik kedua ku yang mengkritik ayah waktu itu. Dulu, ayah nyaris gak pernah punya waktu untuk kita. Terima kasih banyak Ayah karena Ayah sudah mau berubah untuk kita. 

Ayah selalu mau jadi yang terbaik. Ayah juga yang bikin aku tenang. Salah satu kalimat ayah yang paling menenangkan dan membahagiakan adalah "Menikah sama bunda yang membuat ayah sebahagia ini... ayah gak pernah sebahagia ini sebelumnya". Asal ayah tau... kalimat itu jadi kalimat favorit ku sampe sekarang. kalimat itu bikin aku percaya dan berani. Bikin aku tenang dan jadi ikut bahagia. 

Ayah selalu mau jadi ayah yang keren dan gaya. Ayah selalu pake baju warna warni dan nyentrik. Lengkap dengan potongan-potongan keren dan pas yang bikin badan ayah jadi keliatan tambah bagus. Ayah sangat sayang sama bunda dan putra putrinya. Ayah paling bahagia waktu mendapat pujian dari putra bungsunya. Adikku bilang "Aku mau jadi ganteng kayak ayah". Dan ayah tertawa dengan bahagia. 

Ayah, ayah, ayah. Aku mau punya teman hidup kayak ayah. Kadang, aku iri sama bunda yang bisa dikejar-kejar sama orang kayak ayah. Ayah, hidupku masih panjang. Ayah, lihat aku terus ya! Perhatikan aku... agar ayah tau bahwa aku pelan-pelan akan menjadi orang hebat yang bisa ayah banggakan!